Puasa itu bukan hanya sekedar menahan lapar atau dahaga, melainkan juga menahan hawa nafsu. Puasa adalah wasilah untuk menempa jiwa-jiwa menjadi pribadi yang berkarakter bangsa. Sangat sedikit sekali di antara kita yang memahami bahwa berpuasa itu hakikatnya bukanlah hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan pula menahan diri Menahanhaus dan lapar hampir 14 jam lamanya. Tubuh menjadi lemas dan masih harus dihadapkan dengan aroma-aroma sedap ketika memasak. Tidak semakin bersemangat, justru hal ini semakin membuat aktivitas memasak menjadi tidak menyenangkan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui kesalahan yang dihindari sebelum memasak saat puasa di bulan Agarlebih afdal dalam merayakan hari raya Idul Fitri, baginya menjalankan ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, tapi juga harus mampu menahan amarah dan emosi. Namun hal tersebut diakui Tantan belum bisa dia amalkan setiap waktu. Meski menahan lapar dan haus masih bisa dilakukannya saat berpuasa, bahkan dengan latihan rutin Puasa Hakikat dan Maknanya. PUASA adalah ibadah yang 'aneh'. Ia berbeda dari ibadah-ibadah lainnya. Kalau dikatakan itu adalah sebuah bentuk amal, mungkin tidak sepenuhnya pas juga. Sebab, alih-alih aktif ber-'ibadah', atau ber-'amal' puasa, namun dalam menjalaninya, kita justru tidak melakukan apa-apa. Bukannya melakukan sesuatu, kita Puasabukan sekadar menahan lapar PADA suatu masa, Raja Iskandar Zulkarnain beserta pasukannya hendak berangkat menaklukkan suatu daerah. Pagi hari sebelum berangkat, Iskandar Zulkarnain berpesan kepada pasukannya: Golongan yang KEDUA mengambil alakadarnya yang terinjak di sungai, sekedar mengikuti perintah raja. Doaberbuka puasa - Menjalankan ibadah puasa merupakan kewajiban di bulan Ramadhan. Sehingga semua umat muslim wajib untuk melaksanakannya. Puasa sendiri bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan hawa nafsu. Termasuk hal-hal yang bisa mengurangi amalan ibadah puasa yang kita jalankan. Orangyang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga saja adalah hakekatnya orang yang tidak tahu malu kepada Allah dengan sebenar benarnya. "Puasa itu bukan sekedar dari menhan makan dan minum saja, akan tetapi menahan dari perbuatan sia sia dan perkataan dosa" (HR Ibnu Khuzaimah : 1996, syaikh Al Albani mengatakan sanadnya shahih, lihat Ketikakebanyakan orang, umat muslim tengah mempersiapkan dirinya menyambut hari pertama bulan puasa, kita-saya, dan mungkin juga anda masih saja sibuk memikirkan persoalan duniawi-kerja, kuliah dan organisasi, kekasih pun tinggal ataukah pulang kampung yang tidak begitu penting jika dibandingkan dengan pertanyaan sudahkah kita siap menyambut bulan yang penuh keberkahan ini? Jo9k. Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, namun juga menahan diri dari perbuatan buruk. TIAP kali memasuki Ramadhan kita merasakan “naluri beragama” gharizatu at-tadayyun kita meningkat, terasa kuat, seiring gambaran suasana Islami yang akan mengitari kita selama sebulan penuh. Setiap Muslim sangat menantikan datangnya Ramadhan, meski hampir selalu saja terjadi kontroversi atau perbedaan pendapat soal kepastian awal Ramadhan. Dipastikan, melihat suasana Ramadhan sebelumnya, suasana Islami akan terjadi di sekitar kita. Masjid-masjid dipenuhi jamaah taraweh, pengajian, dan acara-acara keislaman lainnya. Sungguh, keislaman kaum Muslim terasa dan terlihat pada bulan Ramadhan. Kewajiban kita sebagai kaum Muslim sebenarnya cuma satu selama Ramadhan, yakni berpuasa –menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan suami-istri— sejak imsak atau jelang terbit fajar masuk waktu shalat Subuh hingga terbenam matahari masuk waktu shalat Magrib. Namun, mengingat Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan ampunan Allah SWT, pahala ibadah dilipatgandakan, dan Allah SWT menjanjikan “siapa berpuasa penuh keimanan dan keikhlasan akan diampuni dosanya yang telah lalu dan menemukan dirinya kembali suci pada akhir Ramadhan”, maka kita merasa tidak cukup, merasa tidak puas, dengan hanya “sekadar” berpuasa pada bulan Ramadhan itu. Kita ingin melakukan ibadah ekstra, seperti ibadah “khas” Ramadhan lainnya yang sifatnya sunah –tarawih—plus tadarus atau membaca Al-Quran, belajar atau mendalami Islam, mengikuti ceramah tarawih, ceramah Subuh, bersedekah, dan sebagainya. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, yaitu malam tanggal-tanggal ganjil 21, 23, 25, 27, 29, kita “berburu” menemukan satu malam “khoirun min alfi syahrin”, lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qodar Malam Penentuan. Ibadah pada malam lailatul qodar bernilai seribu bulan ibadah! Rasulullah Saw pun mengajarkan dan memberi teladan i’tikaf, berdiam diri di masjid untuk khusyu’ beribadah kepada Allah, demi menemukan Lailatul Qodar. "Carilah Lailatul Qodar pada malam-malam yang ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan" HR. Bukhari. Keistimewan Bulan Ramadhan Ramadhan memang bulan istimewa. Ramadhan juga bulan kemenangan umat Islam. Sejarah Islam menunjukkan, mayoritas kemenangan umat Islam dalam sejumlah peperangan dan medan dakwah, terjadi pada bulan Ramadhan –mulai dari Perang Badar hingga Perang Oktober Arab-Israel 1973. Faktor utamanya, karena Allah SWT “turun tangan” menolong kaum Muslimin untuk mengatasi berbagai rintangan dakwah dan jihad, disebabkan kedekatan kaum Muslimin dengan-Nya selama Ramadhan. Keistimewan bulan Ramadhan, jika kita rinci, antara lain 1. Bulan Diturunkan Al-Quran. "Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya al-Quran sebagai petunjuk bagi sekalian manusia dan membawa keterangan yang menjelaskan petunjuk dan perbedaan antara yang benar dengan yang salah" QS. Al-Baqarah 185. 2. Pintu Syurga Terbuka Luas. "Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu syurga akan dibuka" HR. Bukhari. 3. Pintu Rahmat Terbuka Luas. "Apabila tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu rahmat" HR. Muslim. 4. Pintu Langit Terbuka Luas. Amal ibadah, utamanya puasa, langsung sampai kepada Allah SWT. "Bila masuk bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka" HR. Bukhari. 5. Pintu-Pintu Neraka Tertutup Rapat. "Apabila masuk bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka jahanam ditutup" HR. Bukhari. 6. Setan dan Jin Dirantai. "Bila tiba malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dibelenggu juga jin yang derhaka" HR. Tirmizi. Maka, jika ada manusia yang tetap saja melakukan maksiat atau kejahatan pada bulan Ramadhan, semata-mata karena akhlak atau perangainya yang busuk dan menjadi budak nafsu. Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar Dahaga Satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu soal pembatal puasa. Secara fiqih, puasa batal karena makan, minum, berhubungan badan, muncul niat berbuka, dan muntah yang disengaja. Namun, puasa juga bisa batal pahalanya jika kita tidak menahan diri dari perbuatan buruk, seperti bergunjing, menyakiti orang, berkata dusata, keji, dan cabul, dan sebagainya. “Puasa bukanlah sekadar menahan dari makan dan minum” HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menerangkan “Seorang yang berpuasa adalah orang yang anggota badanya berpuasa dari perbuatan-perbuatan dosa, lisannya berpuasa dari kata dusta, kata keji, dan ucapan palsu, perutnya berpuasa dari makanan dan minuman, kemaluannya berpuasa dari bersetubuh. Bila dia berbicara, tidak berbicara dengan sesuatu yang mencacat puasanya, bila berbuat, tidak berbuat dengan suatu perbuatan yang merusak puasanya, sehingga seluruh ucapannya keluar dalam keadaan baik dan manfaat. “ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya. HR. Bukhari. ”Bisa jadi seorang yang berpuasa, bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga” HR Ibnu Hibban. “Sesungguhnya puasa itu bukan menahan dari makan dan minum saja, hanyalah puasa yang sebenarnya adalah menahan dari laghwu ucapan sia-sia dan rafats ucapan kotor, maka bila seseorang mencacimu atau berbuat tindakan kebodohan kepadamu katakanlah Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. “Janganlah kamu saling mancaci bertengkar mulut sementara kamu sedang berpuasa. Maka bila seseorang mencacimu katakana saja Sesungguhnya saya sedang berpuasa’, dan kalau kamu sedang berdiri maka duduklah.” HR. Ibnu Khuzaimah, Nasa’i, Imam Ahmad. Semoga puasa Ramadhan kita tidak sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga berpuasa dari segala keburukan sehingga terbiasa beramal baik setelah Ramadhan. Amin! Wallahu a’lam bish-shawabi. Puasa Tidak Sekedar Menahan Haus dan Lapar, Ini Manfaat dan Tujuannya Ilustrasi puasa. foto healthlineMengenali tujuan dan hikmah ibadah yang dikerjakan penting untuk memotivasi diri agar bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada Allah. Meskipun tidak semua ibadah disebutkan hikmah dan manfaatnya secara langsung dalam al-Qur’an dan hadis. Tapi paling tidak kita bisa mengetahuinya dari hasil pemikiran dan pengalaman para ulama. Ibadah puasa misalnya, ada banyak ulama yang menuliskan rahasia dan manfaatnya, di antaranya Izzuddin bin Abdul Salam. Beliau menulis manfaat puasa dalam kitab Maqashid al-Shaum. Ada delapan manfaat puasa yang beliau sebutkan dalam kitab itu, beliau mengatakan“Puasa memiliki beberapa faidah meningkatkan kualitas iman, menghapus kesalahan, mengendalikan syahwat, memperbanyak sedekah, menyempurnakan ketaatan, meningkatkan rasa syukur, dan mencegah diri dari perbuatan maksiat”.Bulan Ramadhan merupakan wadah untuk memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan. Pada bulan tersebut dibuka pintu ampunan dan kebaikan seluas-luasnya. Dalam hadis, Rasulullah mengatakan, “Bila bulan Ramadhan telah datang, pintu surga dibuka, pintu negara ditutup, dan setan dibelenggu” HR Bukhari.Selain ajang peningkatan iman dan takwa, puasa juga dapat menghapus dosa manusia. Rasulullah SAW berkata, “Siapa yang puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka dosanya diampuni” HR Bukhari. Puasa juga dapat difungsikan sebagai latihan mengendalikan syahwat, sebab syahwat sangat mudah dikendalikan dalam kondisi lapar. Pada saat lapar, pikiran manusia hanya tertuju pada makan dan minum. Dalam situasi seperti ini, hasrat untuk melakukan aktifitas lain atau maksiat dapat kondisi lapar juga, manusia biasanya ingat dan sadar begitu berharganya nikmat Tuhan, walaupun sekilas terlihat sedikit. Melalui ibadah puasa, manusia bisa merasakan kelaparan dan rasa haus yang dirasakan oleh orang-orang miskin. Sehingga dengan perasaan tersebut mereka terdorong untuk memperbanyak kita puasa tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi dapat menjalankannya dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang baik dan diberi pahala oleh Allah SWT. Bulan Ramadhan sudah tiba. Saatnya mengumpulkan banyak pahala dengan melakukan berbagai kegiatan yang mendatangkan banyak manfaat. Mulai dari berpuasa menahan lapar dan haus sampai melakukan ragam kegiatan ibadah lainnya. Belajar Puasa Jika dahulu ketika masih kanak-kanak, Kita berpuasa diajarkan untuk menahan haus dan lapar. Tidak makan minum dari mulai lepas imsak dan berbuka ketika bedug Magrib berkumandang. Dahulu semasa kanak - kanak, Saya pribadi tidak mengenal apa itu bukber, ngabuburit atau kegiatan yang bersifat duniawi. Sependek pengetahuan Saya, orang tua mengajarkan berpuasa dengan cara sederhana. Puasa Kala Dewasa Iklan Kini saat dewasa Saya banyak melihat keriuhan ketika bulan puasa tiba. Adanya "bukber" alias buka bareng teman-teman. Kemudian ada "ngabuburit" alias jalan-jalan sembari menunggu waktu buka puasa tiba. Saat menjelang sahur tak jarang ada ajakan "sahur on the road" yaitu membagikan makanan sahur pada orang-orang di jalan yang kurang beruntung. Ada juga bagi-bagi sembako menjelang hari raya Idul Fitri. Semua keriuhan kegiatan selama bulan Ramadhan terjadi dan berulang hampir setiap hari saat bulan Ramadhan tiba. Makna Puasa Menurut pemahaman Saya pribadi sejatinya makna menjalankan puasa bukan sekedar menahan haus dan lapar saja. Makna puasa adalah pengendalian diri terhadap sesuatu yang tidak pada tempatnya. Makan dan minum itu seperlunya tidak perlu berlebih. Karena sesuatu yang berlebih tentu tidak baik. Mengendalikan emosi dan perilaku itu juga bagian dari makna puasa. Apa keuntungan emosi sampai naik pitam berlebihan? Tidak ada, selain membuat jantung berdetak cepat dan mengeluarkan kata-kata yang tidak terkendali. Apakah marah menyelesaikan persoalan? Bagi pemilik amarah bisa lega hatinya karena sudah keluar uneg-unegnya. Bagi orang yang menjadi tempat pelampiasan amarah mungkin akan menyimpan trauma atau dendam sepanjang hayatnya. Orang berpuasa juga sekaligus melakukan ibadah. Sejatinya ibadah adalah minta pengampunan pada Allah SWT atas apa kekhilafan yang Kita perbuat. Namun sifat manusia yang "gampang lupa" namun "susah ingat" kerap melakukan kekhilafan yang nyaris sama berulang kali. Selanjutnya berulang kali juga Kita memohonkan ampunan pada NYA. Menjadi Manusia yang Naik Kelas Seiring bertambahnya usia seharusnya Kita sebagai manusia secara perlahan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sehingga kekhilafan yang Kita lakukan tidak berulang. Karena dunia adalah tempat manusia belajar maka seperti di ruang kelas yang berisi murid, manusia sebagai murid sejatinya juga harus "naik kelas". Manusia dikatakan "naik kelas" jika secara perlahan namun pasti sudah bisa meminimalisir sifat dan perbuatan yang tidak membawa manfaat bagi manusia sekitarnya. Manusia dikatakan "naik kelas" jika sudah bisa menghargai sesuatu yang berbeda dan tidak sibuk menilai orang di luar diri. Manusia dikatakan naik kelas jika waktunya lebih banyak untuk kontemplasi diri bukan sibuk membenahi perilaku orang lain tapi lupa membenahi perilaku diri sendiri. Puasa Setiap Hari Jika makna puasa bukan sekedar "menahan diri" tapi harus bisa "mengendalikan diri" apakah puasa hanya dilakukan di bulan Ramadhan saja? Lalu bulan - bulan lainnya apakah Kita tidak "berpuasa"? Jawabannya tentu tidak. Sejatinya setiap detik Kita harus melakukan "puasa dengan makna". Bulan Ramadhan adalah pengingat bagi manusia sebagai mahluk pembelajar untuk lebih mengenal apa itu "makna puasa". Sifat dasar manusia adalah "pelupa". Oleh karenanya perlu selalu diingatkan pada satu waktu tertentu untuk lebih fokus menjalankan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh NYA. Oleh karena itu ditetapkan satu bulan yang bernama bulan Ramadhan untuk menjalankan ibadah puasa. Tapi tentunya ibadah puasa yang Kita jalankan bukan sekedar menahan haus dan lapar saja. Sayang kan, kalau Kita bisa menjalankan puasa dengan "makna" selama satu bulan penuh namun harus ternoda dengan tidak bisanya kita mengendalikan diri terhadap apapun pada 11 bulan lainnya. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa dengan Makna Ikuti tulisan menarik Bayu Fitri Hutami lainnya di sini.